THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 17 November 2010

Bab 7. Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan

Nama: Kurnia Anggraeni
Npm  : 13110935
Kls    : 1KA26
Kel    : 3



1. Menjelaskan Hubungan Desa dan Kota
  • Teori
Hubungan Desa dan Kota

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar di antara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena di antara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan seperti beras, sayur¬mayur, daging dan ikan.Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis¬jenis pekerjaan tertentu di kota, misalnya saja buruh bangunan dalam proyek¬proyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja-pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan di bidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.

Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat dan obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kesehatan dan alat transportasi. Kota juga menyediakan tenaga-tenaga yang melayani bidang¬bidang jasa yang dibutuhkan oleh orang desa tetapi tidak dapat dilakukannya sendiri, misalnya saja tenaga-tenaga di bidang medis atau kesehatan, montir¬montir, elektronika dan alat transportasi serta tenaga yang mampu memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil budi daya pertanian, peternakan ataupun perikanan darat.  

  • Studi Kasus

Urbanisasi Tak Terkendali Menimbulkan Krisis Kemanusiaan

PERINGATAN Hari Kesehatan Sedunia tahun 2010 mengangkat tema soal urbanisasi dan kesehatan. Urbanisasi menyebabkan pertumbuhan penduduk di perkotaan, hal ini dapat menimbulkan permasalahan global. Di abad 21 ini, lebih dari setengah penduduk dunia tinggal di kota dan lebih dari sepertiganya tinggal di daerah kumuh. Sehingga tidak mustahil jika nantinya, kemiskinian semakin meningkat dan jumlah orang miskin di kota lebih banyak daripada di desa.

Masalah yang dihadapi terkait laju urbanisasi dan pertumbuhan penduduk antara lain kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan yang kurang sehat, pelayanan kesehatan yang kurang layak, serta tingginya kriminalitas, kekerasan dan penggunaan obat-obatan terlarang.

Menurut Ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Indonesia (Akeswari) DR Dr Dwidjo Saputro. SpKJ(K) kondisi perkotaan yang semakin padat penduduknya akan menimbulkan masalah kesehatan jiwa. "Persaingan hidup semakin berat, karena lapangan pekerjaan tidak bisa menyerap tenaga kerja lagi, maka kemiskinan semakin bertambah akibatnya semakin banyak penduduk yang stress. Lingkungan yang kurang kondusif juga sangat mempengaruhi kesehatan Jiwa anak dan remaja." kata Dwidjo dalam forum diskusi bersama PWI Jaya di Jakarta. Kamis .

Dwidjo mengatakan berbagai kasus bunuh diri yang dilakukan remaja, perkelahian antar remaja, dan masalah sosial lainnya yang terekspos adalah suatu fenomena gunung es. Artinya, selain masih banyak masalah yang tidak muncul ke permukaan, juga mempunyai akar masalah yang mendalam dan komplek terkait dengan kesehatan jiwa.

Urbanisasi yang tidak terkendali dapat mengakibatkan krisis kemanusiaan. Penduduk yang semakin miskin akan semakin menderita. Bank Dunia pun memperkirakan tahun 2035 nanti kota-kota akan didominasi permukinan orang-orang miskin. "Anak-anak dan remaja di perkotaan juga akan mempunyai beban psikologis yang semakin besar." ujarnya.

Masalah sosial bisa terjadi karena ada masalah kesehatan jiwa yang dialami masyarakat. Namun sebaliknya, masalah kesehatan jiwa muncul akibat ada masalah sosial. "Kedua hal itu saling mempengaruhi." katanya. Tetapi, dia sangat menyayangkan perhatian pemerintah belum serius terhadap penanganan masalah kesatuan Jiwa terutama kesehatan Jiwa anak dan remaja. Hingga saat Ini belum ada kebijakan dan perencanaan yangjelas. padahal satu dari lima anak dan remaja memiliki masalah kesehatan jiwa.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Dr Ida Bagus Nyoman Banjar mengatakan Jakarta sebagai sasaran urbanisasi memiliki beban semakin besar. "Untuk mengatasi penyakit infeksi saja belum tuntas, muncul lagi kasus-kasus penyakit degeneratif karena gaya hidup perkotaan, lalu sekarang masalah kesehatan jiwa akibat padatnya penduduk kota." ujarnya.

Kepala Divisi Psikiater Anak RSCM DR Ika WldyawaU. SpKJ. mengatakan. Posyandu-pos-v,iii Im sangat menolong untuk menemukan anak-anak yang mengalami gangguan kejiwaan. "Gangguan kejiwaan ada yang muncul sejak kecil, misalnya anak yang sulit makan bisa saja dia mengalami depresi," katanya.

Sebelumnya. Menteri Kesehatan Endang Rayahu Sedyanlngsih mengatakan, pembangunan kesehatan di pedesaan masih terus berlangsung, sementara masalah kesehatan di perkotaan juga menjadi perhatian penting. "Kita tidak bisa berdiam diri, masalah kesehatan di perkotaan juga semakin kompleks. Tetapi masyarakat desa Juga harus disiapkan agar bisa mandiri dalam menjaga kesehatannya dan pemerintah daerah harus dapat mengantisipasi kemajuan yang terjadi di desa dengan menyediakan sarana dan prasarananya." kata Menkes.
Sementara itu. Yayasan Damandiri yang diketuai Prof DR Haryono Suyono, terus bekerja ikut menyiapkan masyarakat desa agar siap menerima program-program pemerintah dan mcmperdayakan masyarakat melalui pos-pos pemberdayaan keluarga (Pos-daya).(dew)
  • Opini
Menurut saya, seharusnya pemerintah dapat menyelesaikan masalah urbanisasi ini. Karena dengan adanya urbanisasi yang tak terkendali, memberikan banyak dampak negatif. Seperti: kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan yang kurang sehat, pelayanan kesehatan yang kurang layak, serta tingginya kriminalitas, kekerasan dan penggunaan obat-obatan terlarang

2. Menjelaskan Tentang Aspek Positif dan Aspek Negatif
  • Teori
Aspek Positif
1. Aspek Ekonomi
  • Melancarkan hubungan antara desa dengan kota
  • Meningkatkan volume perdagangan antara desa dengan kota
  • Meningkatkan pendapatan penduduk 
2. Aspek Sosial
  • Meningkatnya wawasan warga desa akibat terjalinnya pengaruh hubungan antara warga desa dengan warga kota 
3. Aspek Budaya
  • meningkatnya pendidikan di desa yang ditandai dengan meningkatnya jumlah sekolah dan siswanya yang bersekolah
Aspek Negatif
1. Aspek Ekonomi
  • Menimbulkan kawasan perdagangan
2. Aspek Sosial
  • Terjadinya saling ketergantungan antara desa dengan kota
3. Aspek Budaya
  • Terjadinya perubahan tingkah laku masyarakat desa yang mendapatkan pengaruh dari masyarakat kota
  • Studi Kasus
Melalui survey lapangan, dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan pola mobilitas penduduk nion permanen dan di dalam ruang lingkup propinsi, merupakan ciri utama mobilitas penduduk pada masyarakat pedesaan. Proporsi rumah tangga mover dibandingkan rumah tangga petani ketiga desa kasus menunjukkan angka 81,67 % Desa yang paling tinggi, yaitu Desa Kebonkelapa sebesar 87,50 %, kemudian Desa Cisarua sebesar 82,50 % dan Desa Cipandanwangi 75 %.

Tingkat pendapatan petani di sektor pertanian dan luas lahan yang dimiliki berpengaruh nyata terhadap tingkat mobilitas penduduk di dua desa kasus Yang berarti, semakin rendah tingkat pendapatan petani di sektor pertanian dan semakin tingkat pemilikan lahan pertanian, semakin tinggi tingkat mobilitas penduduk untuk masing-masing desa kasus. Variabel ada /tidaknya teman/saudara di tempat tujuan dan peluang bekerja di luar sektor pertanian di pedesaan berpengaruh terhadap tingkat mobilitas penduduk untuk masing-masing desa kasus.

Hal ini menunjukkan adanya teman/saudara di tempat tujuan dan peluang bekerja di luar sektor pertanian di pedesaan merupakan variabel-variabel yang ikut menentukan penduduk dalam memutuskan untuk melakukan mobilitas penduduk.
Variabel tingkat pendidikan rumah tangga petani belum tampak pengaruhnya di semua desa kasus.
Dampak mobilitas penduduk terhadap rumah tangga petani dan pembangunan di Tiga desa kasus sebagai daerah asal pada umumnya positif. Dampak tersebut dapat dilihat dari penggunaan remitan (kiriman barang atau uang) oleh rumah tangga mover di desa, sumbangan pendapatan dari kegiatan mobilitas penduduk terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga petani, mempercepat proses penerimaan ide-ide baru dan pembukaan lapangan kerja baru dan pada akhirnya mengakibatkan perubahan sosial ekonomi pada masyarakat pedesaan.

Mobilitas penduduk dari desa ke kota, baik gerak komutasi, sirkulasi, migrasi semi permanen, maupun migrasi permanen, mengandung nilai-nilai tertentu
Yang kiranya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan kebijakan kebijakan pembangunan regional dan pedesaan. Apabila dilihat dari dampak mobilitas penduduk yang posistif terhadap pedesaan sebagai daerah asal, kebijakan yang diambil adalah membiarkan kegiatan mobilitas penduduk yang terjadi di tiga desa kasus sampai pada skala tertentu. Namun, apabila terjadi keadaan involusi tahap kedua (yang diistilahkan LP3S) khususnya yang terjadi di pedesaan, konsep pengembangan industri pedesaan yang berskala kecil dan menengah, dengan menggunakan bahan baku lokal merupakan kebijakan yang relevan dilakukan dikaitkan dengan karakteristik mobilitas penduduk yang terjadi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan asumsi sektor tersebut didukung dengan potensi pertanian lahan kering yang secara kontinyu, aksebilitas transportasi yang relatif baik sehingga mudah ke pasar, alokasi dana dari sumbangan mobilitas penduduk terhadap usaha yang produktif dan yang paling penting adalah dukungan Pemerintah Daerah terhadap kegiatan tersebut baik dari aspek teknologi, permodalan dan pemasarannya. Semakin berkembang faktor industri tersebut, dalam hal ini dapat membuka lapangan kerja baru dengan tingkat upah yang relatif lebih baik dibandingkan sektor pertanian dan secara tidak langsung dimungkinkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
  • Opini
Mobilitas menimbulkan dampak positif dan juga dampak negatif dalam kehidupan bermasyarakat.


3. Menyebutkan 5 Unsur Lingkungan Perkotaan
  • Teori
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan, mengandung 5 unsur yang meliputi :
  1. Wisma : Unsur ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat perlindungan.
  2. Karya : Unsur ini merupakan syarat utama bagi eksistensi suatu kota.
  3. Marga : merupakan unsur perkotaan yang berfungsi menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lain.
  4. Suka : unsur ini merupakan bagian dari ruang perkantoran untuk memenuhi kebutuhan penduduk.
  5. Penyempurnaan : unsur ini merupakan bagian terpenting dari suatu kota.
  • Studi Kasus
Taman Kota dan Upaya Pengurangan Suhu Lingkungan Perkotaan
(Studi kasus kota Semarang)

Abstrak— Dengan karakter iklim yang berbeda-beda, setiap tempat di dunia seharusnya memiliki rancangan kota yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kebutuhan manusia untuk kenyamanan fisik terutama kenyamana suhu. Kota tropis memerlukan banyak ruang terbuka hijau (taman kota ) untuk menurunkan suhu lingkungan. Banyak sekali manfaat yang didapat dengan memperbanyak taman kota, secara spasial dan individual, di wilayah perkotaan menjadi sangat penting karena dapat berfungsi sebagai perekayasa guna memperbaiki kualitas lingkungan kota. 

Kualitas udara ambien Kota Semarang masuk kategori sedang. Artinya, udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, tapi pada tumbuhan dan nilai estetika. Kategorisasi itu berdasarkan indeks standar pencemar udara atau ISPU. ISPU menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu, yang didasarkan pada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika, dan makhluk hidup lainnya. Dalam lima tahun terakhir, ISPU Semarang ratarata per tahun mencapai angka 55,54. (Kompas, 2006). Dalam pembangunan perkotaan yang pesat seiring pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan ruang-ruang terbuka hijau sebagai unsur kota dan merupakan kebutuhan mutlak bagi penduduk kota. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan yang ideal adalah keseimbangan koefisien penggunaan tata ruang yang memadai antara luas perkotaan dan pertambahan penduduk.Kehadiran tumbuhan sangat diperlukan diperkotaan karena mampu untuk menurunkan suhu lingkungan sekitarnya. Saat ini banyak taman kota yang berubah fungsi karena kebijakan pemerintah dan masih juga ada taman kota yang tetap eksis keberadaannya

  •  Opini
Sangat dibutuhkan kesadaran yang tinggi untuk memperbaiki dan melindungi lingkungan sekitar kita.. Oleh karena itu, kita harus segera menyadari arti penting menjaga lingkungan sekitar kita. misalnya saja dengan menanam pohon, akan mengurangi peningkatan suhu ekstrim di lingkungan sekitar kita.

0 komentar: